Oleh: arsyadgafar | Desember 5, 2009

Hukuman ringan bagi Jaksa Ester Tanak

Ester Tanak dan Dara Veranita adalah dua orang Jaksa yang sedang “naik daun” pada Desember 2009 ini. Namanya yang semula tidak dikenal tiba-tiba muncul sebagai berita hangat. Apa gerangan yang terjadi?

Keduanya adalah “bintang keadilan” yang sejajar dengan Prita Mulya Sari yang diganjar 6 bulan penjara dan dihukum membayar 204 juta rupiah dalam pertengkaran dengan RS Omni Internasional, dan Amir Mahmud pemilik ekstasi satu butir yang diganjar 4 tahun penjara. Ester Tanak bersama Dara Veranita adalah 2 orang Jaksa yang menggasak barang bukti pil ekstasi lebih dari 300 butir ┬ádalam kasus yang sedang ditanganinya, sedang rekannya Dara Veranita bahkan divonnis Bebas.

Begitu timpangkah rasa keadilan hakim dalam menjalankan tugas peradilannya?

Ya, “rasa keadilan”. Sebuah kata yang dirindukan banyak orang. Karena ada kata “rasa” maka konotasinya menjadi sangat subyektif. Rasa ada pada setiap orang, yang sayangnya berbeda-beda sesuai pandangan moral dan situasi bathin masing-masing.

Kalau seandainya hakimnya adalah Henry Yosodiningrat (Ketua Granat) maka pasti Ester dan Dara akan berhadapan dengan regu tembak. Tapi kalau hakimnya adalah Zarima, pasti mereka akan dapat hukuman dua tiga bulan saja. Sory, ini hanya pengandaian yang terlalu ekstim saja. Sekedar untuk menggambarkan bagaimana subyektifnya “rasa keadilan” itu.

Di ruang sidang pengadilan, ada tiga pihak yang saling berebut “keadilan”. Pihak kesatu adalah Terdakwa, pihak kedua adalah Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan pihak ketiga adalah Hakim.

Terdakwa (dalam hal ini Jaksa Ester dan Dara) pasti merasa tidak bersalah. Bagaimana bisa dikata bersalah “wong barang bukti itu saya yang simpan. Ya mau-mau saya dong. Mau saya buang, mau saya jual, itu terserah saya”. Sedang pihak JPU bilang, “Terdakwa tidak bisa semaunya begitu dong. Kan ada aturannya. Tapi karena kita sama-sama Jaksa, yah, gak apa-apalah”. Lalu sang Hakim memutus perkara. Sebelum sampai pada putusan, maka Hakim membuat pertimbangan.

Menimbang, bahwa Terdakwa karena tugasnya telah menyimpan barang bukti berupa ekstasi. Menimbang, bahwa karena gajinya tidak cukup sedang Terdakwa ingin membeli henpon yang lagi tren saat ini berupa Black Berry. Menimbang bahwa Terdakwa berlaku sopan di depan sidang. Menimbang bahwa Terdakwa belum kawin. Menimbang bahwa…..dst Maka mengingat keadilan berdasarkan ketuhanan yang maha esa, menghukum Terdakwa dengan hukuman yang seringan-ringannya…

Yah, itulah gambaran keadilan di dunia ini. Tergantung kepada siapa yang menuntut dan siapa yang memutus perkara. Kalau Henry Yosodiningrat hakimnya, maka matilah dia. Kalau Zarima yang mengadilinya maka beruntunglah dia. Sekarang tinggal terserah saja. Henry atau Zarima.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: