Oleh: arsyadgafar | Desember 7, 2009

Saya mencari calo

Satu tahun lalu, tahun 2008, saya mengurus STNK di Samsat. Setelah menjadi purnawirawan dan asli sipil maka saya berusaha untuk benar-benar menjadi orang sipil murni. Maka saya urus sendiri STNK mobil saya. Dulunya, saya dengar cerita para calo yang berkeliaran di Samsat.

Saya mengurus sendiri mulai dari membeli formulir, mengisi data, foto copy BPKB, foto copy KTP dsb. Lalu ke loket yang khusus menerima perpanjangan STNK. Lalu duduk menunggu.

Perhatian saya tertarik melihat para petugas yang sigap melayani dan benar-benar menolak calo yang berusaha “menggoda”. Semuanya sibuk di depan komputer masing-masing. Dari satu meja saya melihat berkas didorong ke meja sebelahnya. Lalu dari meja itu ke sebelahnya lagi, dst.

Dari pengeras suara terdengar dipanggil nama-nama orang yang sudah selesai prosesnya. Kira-kira dua jam saya menunggu, nama saya sudah dipanggil. Saya ke loket, bayar biaya dan ambil STNK. Selesai sudah. Saya merasa bangga, bahwa kemudian ternyata dapat diciptakan sistem pelayanan yang bisa memuaskan masyarakat dan terhindar dari para calo.

Kemana-mana saya selalu mempropagandakan, bahwa sebenarnya untuk mencegah korupsi itu mudah. Caranya ialah dengan menciptakaan sistem dan mendayagunakan teknologi maju seperti yang dipergunakan oleh Samsat itu. Sungguh mati, saya tidak melihat celah sedikitpun atas kinerja dan sistem yang dibangun oleh Samsat tsb.

Lalu, tadi pagi saya memperpanjang lagi STNK  karena sudah waktunya. Saya ke Samsat dengan membayangkan prosedur yang dulu pernah saya lalui. Beli formulir, isi, copy BPKB, copy KTP, lalu serahkan ke loket dan duduk menunggu. Dua jam kemudian STNK selesai.

Tapi, pagi ini betul-betul susah. Cari parkir saja setengah mampus. Entah sengaja atau tidak, lapangan parkir yang dulu ada sekarang sudah tidak ada lagi. Berputar-putar cari tempat parkir jauh dari Samsat juga tida dapat. Setelah mutar beberapa kali, saya nanya sama seorang di pinggir jalan itu. “Mas, kalau mau parkir dimana ya? Saya mau ke Samsat”. Orang itu menjawab “Kalau ke Samsat saya bisa urus pak”. “Berapa biayanya?” kata saya. “Ongkos jasanya 30.000 pak”.

Fikir-fikir, dari pada susah cari parkir, apaboleh buat pake calo aja.

Yang membuat surprise, si calo tidak membutuhkan copy KTP dan copy BPKB. Saya tanya: “Kenapa tidak pake copy KTP dan BPKB?”. Dia bilang, “Bapak tunggu aja disini, nanti kalau sudah selesai STNK baru bayar”.

Wah, hebat juga calo ini. Maka saya serahkan STNK dan tanya nama dan nomer HP nya.  Saya duduk di mobil sambil dengar radio.

Satu jam kemudian (bukan dua jam seperti tahun lalu), si calo datang menyerahkan STNK yang sudah jadi. Sempat juga terlintas keraguan, jangan-jangan si calo ini bikin STNK aspal. Tapi saya perhatikan STNK nya ternyata tidak ada yang meragukan.

STNK sudah jadi, saya bayar biayanya ditambah 30 ribu biaya jasanya, selesai sudah.

Kalau begini, tahun depan saya cari calo saja….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: