Oleh: arsyadgafar | Desember 17, 2009

Saya mencari koin

Entah kenapa akhir-akhir ini koin rupiah menjadi sangat langka. Usut punya usut, ternyata koin-koin itu habis karena dikumpulkan untuk menyumbang “bintang keadilan” tahun ini Prita Mulyasari.
Tapi kenapa harus koin yang disumbangkan? Emang gimana cara nyerahinnya ke Omni Hospital uang berkarung-karung gitu? Ada-ada aja.
Tapi ngomong-ngomong, kasus koin Prita ini sebenarnya sindiran yang maha dahsyat untuk Omni Internasional khususnya dan Pengadilan di negeri ini pada umumnya. Sindiran yang amat pahit. Dimakan susah, dimuntahkan sakit. Sindiran yang amat melecehkan….
Kenapa rakyat kecil mulai dari taman kanak-kanak, pemulung, pedagang kaki lima sampai ke Pak Menteri mau-maunya direpotin oleh kasus Prita?
Sebenarnya mereka juga tidak terlalu ambil pusing, tapi kasus mbak Prita ini memang menjengkelkan semua kalangan. Yang paling mendasar adalah karena rasa keadilan yang tersinggung. Mereka semua tersinggung, dan tidak tau mau berbuat apa. Lalu, putusannya yah, ngumpulin koin itu. Entah siapa duluan yang nemukan inisiatif cerdas begini. Putusan Majelis Hakim yang menjatuhkan denda 204 juta rupiah kepada Prita Mulyasari benar-benar diluar nalar keadilan masyarakat. Tidak habis pikir, dari mana sang Hakim mengkalkulasi kerugian yang harus ditanggung Prita Mulyasari adalah sebesar 204 juta? Umumnya, dalam perkara lain, Hakim hanya akan mempertimbangkan adanya hukuman ganti kerugian itu bila nyata-nyata Penggugat menderita kerugian materil yang nyata.
Tapi dalam kasus Omni, apanya yang dirugikan?
Kasus kumpul koin ini adalah refleksi dari ketidak percayaan masyarakat yang amat meluas terhadap kredibilitas penegakan hukum. Masyarakat tidak lagi percaya pada hukum yang ditegakkan oleh polisi, jaksa dan hakim. Akibatnya, hampir semua eksekusi putusan pengadilan ditentang oleh fihak yang kalah, bahkan sampai-sampai menimbulkan korban jiwa . Kenapa mereka menentang eksekusi? Karena terlanjur ada prasangka buruk bahwa para penegak hukum itu “ada main” dengan lawannya berperkara. Benarkah ada kolusi dalam setiap perkara di pengadilan? Bisa ya, tapi mungkin juga tidak. Konon, ini karena mudahnya para makelar kasus melakukan operasi siluman di semua tingkat penegak hukum. Mereka mempunyai akses beroperasi karena diberi peluang oleh si petugas. Kenapa diberi peluang? Karena ada uangnya.
Inilah sumber malapetaka penegakan hukum kita, sekaligus menjadi malapetaka dalam usaha memberantas korupsi. Jadi, koruptor dan makelar kasus adalah dua sejoli yang saling membutuhkan.
Kalau mau berantas korupsi bersama koruptornya, berantas juga Makelar Kasus bersama Pejabat yang memberinya peluang.
Semoga sindiran “koin Prita” benar-benar dirasa pahit oleh para penegak hukum di negeri ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: